Kamis, 22 November 2007

"Eksistensi" Ruang Kemahasiswaan FISIP UAJY *

Oleh Hendy Adhitya

Kata orang "tak ada demokrasi bila tak ada ruang publik". Mungkin terlalu ekstrem tapi begitulah adanya. Juergen Habermas pernah mengatakan hal senada. Ruang publik dimaknainya sebagai pemanfaatan ruang oleh orang-orang yang membicarakan topik persoalan bersama. Partisipan dalam ruang publik tidak membicarakan kepentingan masing-masing. Semua partisipan berperan aktif, berkedudukan setara, dan berbicara bebas tanpa tekanan oknum lain. Singkat kata, sebenarnya ruang publik menawarkan pembelajaran berdemokrasi.

Begitu pula dengan Ruang Kemahasiswaan (RK) FISIP UAJY, dan ruang-ruang kemahasiswaan di lain fakultas maupun universitas. Kurang lebih fungsinya sama dengan tesis Habermas.

Selain sebagai ruang berdiskusi, RK biasa dimanfaatkan sebagai ruang arsip kegiatan mahasiswa. Bahasa sehari-harinya ialah pemanfaatan RK sebagai "gudang"nya arsip.

Problem yang kini santer ialah rencana relokasi RK FISIP UAJY. Akhir-akhir ini sebagian mahasiswa –khususnya yang merasa terusik dengan isu ini- merasa cemas. Ruang Kemahasiswaan yang selama ini menjadi tempat mengaktualisasikan diri atau kelompok kurang mendapat kejelasan masa depannya.

Memang dari pihak fakultas dan universitas telah merespon "suara-suara protes" berkaitan dengan relokasi ini. Tapi feedback dari fakultas dan universitas itu hanya diterima oleh sebagian kecil mahasiswa FISIP UAJY.

Nah, untuk memperkecil terjadinya kemungkinan miskomunikasi dan misinterpretasi antar kedua pihak- mahasiswa dan fakultas/universitas- maka kami, BEM FISIP UAJY sebagai fasilitator, mediator, dan aspirator sekaligus akan mengadakan diskusi terbuka. Inti dari pertemuan ini semata-mata untuk memperjelas, meluruskan perihal relokasi RK FISIP UAJY ini. Harapannya didalam pertemuan ini semua pihak dapat menemukan solusi bersama.(hen)
*term of reference pada diskusi terbuka Ruang Kemahasiswaan FISIP UAJY per 23 November 2007

Senin, 19 November 2007

Politik Kampus: Potret Dinamika Gerakan Mahasiswa Kontemporer*

Oleh Hendy Adhitya


Mencermati geliat gerakan mahasiswa di tataran politik nasional sembilan tahun pascareformasi bisa dikatakan minim partisipasi. Apalagi untuk urusan berkecimpung di dunia poltik praktis, sangat kurang minat. Kenyataan ini diperlihatkan dari banyaknya “golongan tua” yang masih dominan di dunia politik. Tersebutlah nama-nama lawas seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Megawati, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan HB X, atau Wiranto. Notabene kesemuanya telah berusia diatas 40 tahun. Tak ada satupun muncul nama baru dari golongan muda yang maju ke kancah perpolitikan nasional.

Fenomena ini tentu lahir bukan tanpa sebab. Ketertarikan mahasiswa kontemporer saat ini cenderung kearah market oriented. Yaitu orientasi yang lebih membawa dampak profit and benefit bagi si mahasiswa itu sendiri. Lain kata, mahasiswa saat ini lebih berpikir soal untung-ruginya ia mengikuti sebuah kegiatan.

Tentu saja hal ini amat kontras dengan tipe gerakan politik mahasiswa pada angkatan pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, orde lama dan orde baru. Dimana arah pergerakan mahasiswa waktu itu lebih bersifat nation problem oriented dengan melibatkan massa rakyat.

Meski begitu, saat ini masih terdapat kelompok mahasiswa yang memiliki interest terhadap kajian politik. Mereka ini sebenarnya merupakan kelompok termarjinalisasi dari kaum mahasiswa itu sendiri. Mereka yang peduli ini “bertahan” dan membuktikan “eksistensi” didalam bentuk organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti BEM, Senat, BPM, Dewan Kemahasiswaan atau kelompok studi yang berorientasi kepada kegiatan politik.

Isu-isu yang diusung biasanya merupakan isu lokal atau paling banter isu kedaerahan dimana organisasi kemahasiswaan itu berada. Contoh, Aliansi BEM Yogyakarta (ABY) beberapa bulan lalu mengusung isu pendidikan. Sementara itu di wilayah lain, perkumpulan organisasi kemahasiswaan di Jawa Tengah mengangkat tema penolakan nuklir. Beda lagi di kawasan Ibukota, isu Pilgub yang menjadi bahan omongan mahasiswa-mahasiswa Jakarta saat itu.

Memperbincangkan Kampus

Bila dilihat dari kacamata jurnalistik, isu lokal yang diusung organisasi kemahasiswaan diambil karena tingkat proximity-nya tinggi. Jarak memengaruhi minat individu atau kelompok untuk mengangkat sebuah isu. Isu yang diangkat biasanya mengenai kebijakan-kebijakan kampus. Seperti absensi 75%, naiknya SPP dari tahun ke tahun atau problem ketidakberesan birokrasi kampus.

Selain itu, Gerakan mahasiswa saat ini memiliki kecenderungan memperjuangkan vested interest-nya masing-masing. Misalnya, Senat di sebuah fakultas memperjuangkan kepentingan mahasiswanya. Atau BEM yang mengusahakan kepentingan-kepentingan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dibawahnya. Akhirnya malah kesan eksklusif yang justru didapat.

Dampaknya tenaga dan pemikiran kritis mahasiswa kekinian hanya habis tersedot untuk mengurusi masalah-masalah lokal dan internal kampus (meski tidak di semua perguruan tinggi). Sementara isu-isu nasional dikesampingkan atau tidak disorot sama sekali. Akibatnya individu atau anggota organisasi kemahasiswaan tersebut terisolasi pengetahuannya tentang perkembangan politik dunia luar.

Disini gerakan mahasiswa perlu atur taktik dan strategi. Problem ini bisa diatasi dengan cara melakukan pembagian tugas antaranggota didalam organisasi tersebut. Pembagian berdasarkan urusan internal dan eksternal organisasi. Bagian internal mengurusi soal problem mahasiswa dan kampus (bahkan di beberapa lembaga pendidikan tinggi, fungsi ini diserahkan kepada organisasi lain seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan atau Himpunan Mahasiswa Program Studi). Sedangkan bagian eksternal bermain pada tataran menjalin relasi dengan organisasi kemahasiswaan ekstra-universiter. Juga membahas isu-isu yang bersifat nation problem oriented.

*Term of Reference diskusi Politik Kampus di Ruang Kemahasiswaan FISIP UAJY per 17 November 2007

Senin, 05 November 2007

Dua Lembar Tentang Saya

Bagiku untuk mendeskripsikan diri sendiri kedalam tulisan merupakan hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Karena objek atau subjek tulisanku selama ini ialah hasil pengamatan, penelitian dan analisa mengenai sesuatu yang ”ada” diluar diriku.

”Ada” bukan berarti si subjek atau objek harus empiris atau post-empiris (etimologi kata ini dari saya sendiri artinya sesuatu yang tadinya ada). Melainkan juga subjek atau objek non-empiris.

Kalau aku terangkan disini lebih jauh lagi bisa berlembar-lembar kertas. Baik, aku mulai dari asmaku sendiri. Hendy Adhitya.

Sebenarnya namaku memiliki tiga kata. Tapi satu kata ketiga di akhir namaku tidak ku pakai. Jujur saja aku tak begitu suka kata ketiga pemberian orangtuaku itu. Memang hanya persoalan sepele, tapi kata itu terlalu jawasentris. Entah mengapa bisa seperti itu, padahal aku sendiri lahir dari peleburan sel sperma dan sel telur orang Jawa.

Pun, aku belum bisa menjadi cahaya yang bercahaya. Yah, itulah aku. Kalian tak salah menilaiku sebagai orang yang idealis atau hiper-idealis.

(Sori kalau aku agak bertele-tele dengan kisahku sendiri. Kalau begitu aku meloncat saja langsung ke masa kini.)

Aku mulai menjadi seorang idealis saat pertama kali duduk di bangku kuliah. Pemikiran-pemikiranku merupakan hasil rangkuman membaca buku-buku Marx, Lenin, Tan Malaka, Soekarno, Gramsci, Che dan sederet nabi-nabi sekuler lainnya. Merekalah yang membentuk warna tulisanku. Maka, tak sedikit kawan-kawan mengatakan diriku sebagai ”orang kiri”. Alias orang-orang yang memiliki perspektif kritik dalam memandang dunia atau realitas.

Alasanku menyukai pemikiran mereka ialah keberpihakan mereka terhadap kaum tertindas. Buruh, petani, orang miskin dan kaum-kaum lain yang ditindas oleh sistem kapitalis. Alasan lainnya, karena aku juga termasuk orang-orang yang tertindas itu! Baik dari latar belakang ekonomi, sosial, pendidikan dan hak politik aku merasa ditindas.

Beralasan bukan?

Sama halnya apabila aku berada di urutan tinggi ”kue pengantin Tsar”. Menjadi orang kaya misalnya. Hidup dalam keadaan mapan dan tak kekurangan sesuatu apapun. Aku bakal memuaskan hasrat konsumtifku yang selama ini kupendam. Membeli Honda Jazz, berdansa-dansi di Hugo’s, membuang uang di Ambarukmo Plaza, bahkan menyewa pelacur untuk bisa bercinta barang semalam. Semua bisa aku lakukan hanya dengan menggesek credit card.

Well, ternyata Tuhan tidak menaruhku di relnya orang-orang mapan. Tapi justru sebaliknya memposisikanku di urutan terbawah kue pengantin Tsar yaitu dalam kubangan orang-orang tertindas. Kalau ini tanya saja alasannya kepada Tuhan mengapa Dia menaruhku disana.

Lama kelamaan tulisanku terkesan menggerutu ya? Kalau begitu aku langsung melompat ke bagian berikutnya.

Sebagai pelajar di sebuah perguruan tinggi, kehidupan perkuliahan tak akan lengkap bila kamu tak ikut mencicipi nikmatnya terlibat dalam organisasi. Banyak teman, kerja bareng, tukar pemikiran bahkan tak jarang kami terlibat adu pendapat. Ya, itu yang bisa kalian lihat dalam dinamika kehidupan berorganisasi. Itu...wajar.

Jujur saja, masa-masa semester lima ini aku bosan. Bosan duduk dan mendengarkan jutaan kata teoritis dosen masuk kedalam telinga. Dan payahnya, aku harus merelakan telingaku dihujani jutaan kata-kata teoritis dosen. Maka untuk membunuh rasa bosanku di perkuliahan, aku puaskan dengan berkegiatan di organisasi. Di sini aku bisa berpartisipasi aktif! Di sinilah otakku dan isinya yang hampir tumpah sekalian aku tumpahkan lewat mulutku. Beralasan bukan?

Tapi disini muncul dilema. Sampai-sampai aku membuat teori sendiri. ”Semakin banyak organisasi semakin banyak pula tugas kuliah tertunda pekerjaannya”. Itu yang oleh orang-orang teratur dan disiplin disebut ”konsekuensi”. Atau menurut hukum kaum Kausalitas setiap sebab akan melahirkan akibat.

Yah inilah konsekuensi. Tak bisa aku tinggalkan begitu saja keduanya seperti aku menodai anak perawan kemudian meninggalkannya sendirian di ranjang. Aku buktikan aku bertanggung jawab.