Senin, 21 Juli 2008

Kurusetra di Ruang Sidang Teknik

Akhirnya setelah berdebat sengit, pertemuan bipartit (perwakilan mahasiswa-perwakilan pejabat kampus UAJY) tentang inisiasi universitas 2008 menghasilkan win-win solution. Ini jadi bukti untuk kesekian kali kekuatan barisan mahasiswa UAJY menunjukkan tajinya.

Oleh Hendy Adhitya

Hari ini (Senin, 21 Juli 2008) mungkin menjadi hari yang memerdekakan buat kami, Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2008. Ruang Sidang Teknik di Kampus Dua jadi "Padang Kurusetra". Di sana, di hadapan bapak dan ibu pejabat kampus, telah kami buktikan bahwa mahasiswa sebagai sivitas akademika UAJY juga punya andil dalam setiap pengambilan/perubahan keputusan kebijakan universitas.

Seperti yang telah saya tuliskan dalam Di Bawah Senapan Universitas, betapa suara mahasiswa sama sekali tidak diperhitungkan dalam setiap urusan universitas, khususnya yang menyangkut dengan peraturan dan kebijakan.

Kami, sekali lagi bukan kumpulan manusia penuntut, tapi ini hak dasar kami sebagai stake holder! Apa lagi sebagai manusia yang punya hak untuk bersuara dan mengkritisi!

Baiknya mungkin saya ceritakan saja kronologis peristiwanya.

######################

Sekitar hampir 30-an orang beramai-ramai datang dan duduk menunggu di depan Ruang Sidang Teknik di Kampus Thomas Aquinas. Waktu itu jam menunjukkan pukul 1 siang kurang 10 menit.

Siang yang terik tak menyurutkan langkah kami untuk berbicara soal hak. Dalam konteks ini adalah permasalahan ketidakjelasan inisiasi universitas.

Beberapa korps berkemeja kuning datang menghampiri, menyapa kami dan membuka pintu "Padang Kurusetra". Pak Sugiyat namanya. Ia Kepala Bagian Urusan Kemahasiswaan dan Alumni di BAAK. Sementara yang satu lagi saya tidak tahu namanya.

Kemudian ia kembali ke luar ruangan dan menanyakan kepada kami yang bergerombol di depan.

"Ini perwakilan dari mana saja?"

Salah seorang teman menjawab,

"Dari FISIP, Ekonomi, Teknobiologi,"

Tapi waktu itu Pak Sugiyat sempat kaget karena perwakilan FISIP jumlahnya 20 orang.

"Lho saya khan cuma mengundang dua orang, ketua inisiasi dan wakil dekan fakultas,"

Membalas pertanyaan Pak Sugiyat, Ridho teman seperjuangan kami dari perwakilan FE menjawab,

“Memangnya permasalahannya apa pak?”

Yah, di sini saya kurang bisa mendengar percakapan lanjutannya, tapi sempat dijawab oleh Pak Sugiyat soal jatah “paket simpatik” (pada rapat ini dipersiapkan bagi peserta rapat dua kresek besar kotak makan lengkap dengan air minum ukuran gelas) dan kursi dalam ruang yang kemungkinan terbatas.

“Ah, kita ke sini bukan cari makan kok pak,” sindir teman-teman diiringi tawa keras.

“Kalau kursi di dalam kurang, kita bisa sambil lesehan kok, santai saja, kayak gak tahu mahasiswa saja,” celetuk salah seorang teman.

Setelah menunggu rada lama, dan sepertinya Pak Siswanto yang terhormat belum datang juga, wakil dekan 1 dan pejabat kemahasiswaan masing-masing fakultas satu per satu berdatangan menyapa kami dan memasuki ruang. Tidak lupa pintu ditutup dari dalam.

Kami semua menunggu di luar. Sementara apa yang tengah mereka “koordinasikan” di dalam ruang itu kami emoh tahu. Yang terpenting kami semua telah siap dengan amunisi argumen-argumen logis.

Akhirnya, aktor utama yang ditunggu tiba juga. Pak Siswanto, Pejabat Kemahasiswaan tingkat universitas itu berjalan mantap menuju arah kami dan menyapa kami sebelum akhirnya memasuki ruangan.

Untuk kedua kalinya Pak Sugiyat meminta hanya perwakilan mahasiswa per fakultas saja yang masuk. Itu pun hanya dijatah satu orang.

Acuh tak acuh menanggapi imbauannya, karena kami cukup kesal juga, akhirnya 30-an orang ini tetap memaksa memasuki “Padang Kurusetra”.

Semua duduk di kursi masing-masing
Keberanian hati menjadi teman kami...


Rapat dimulai.
#################
Pak Siswanto membuka pertemuan. Sembari membagikan lembar jadwal dan rundown acara Inisiasi Universitas 2008, ia berbicara dengan nada suaranya yang dalam, “Saya senang pertemuan ini diadakan, di sini kita mencoba bersama-sama membicarakan jalan keluar atas inisiasi universitas ini.

“Ada pertanyaan? Anda sudah melihat kertas yang sudah saya bagikan tadi?”

Teman-teman mahasiswa lalu sibuk melihat, mencermati tiap tulisan dalam lembaran yang diberi tadi.

Dari arah belakang, Thomas, salah satu perwakilan FISIP langsung bertanya,“Seberapa efektif diadakannya inisiasi universitas?”

Siswanto kemudian langsung menanggapinya dengan senyum lebarnya yang memperlihatkan barisan gigi-gigi gaeknya.

“Saya senang dengan pertanyaan ini,” katanya.

“Lalu solusimu apa?” tiba-tiba ia langsung balik bertanya.

Otomatis teman kami kaget pertanyaan ini malah harus dijawabnya.

“Ya, menurut saya ini tidak efektif karena jumlah mahasiswa non-eksakta mencapai 900-an orang, sedangkan pelaksanaannya hanya di dalam satu ruangan auditorium. Lalu bagaimana dengan penyampaian materinya? Mahasiswa Baru (MaBa) bisa kebosanan.”

Kemudian Pak Sugiyat yang menjawab,” Sesi (materi) Universitaria dan Keatmajayaan akan dibagi ke dalam empat bagian (kelompok) mahasiswa ke dalam empat ruangan kelas berbeda.”

Pertanyaan, tanggapan, kritik dan solusi kemudian terus bermunculan. Beberapa di sini saya ambil dialog yang menarik dan saya ingat.

Seorang teman bertanya, kalau tidak salah Ridho,
“Apa tujuan inisiasi universitas menurut mulut bapak sendiri?” ditantangnya Sang pejabat itu.

Merasa tertantang dengan Ridho, ia memberi jawab,” Memperkenalkan universitas secara keseluruhan yang tidak bisa dipegang di fakultas, seperti pengenalan UKM. Belum lagi sesi pengenalan universitas lebih efektif jika diadakan sekali. Kalian jadi tidak perlu memikirkan lagi untuk memasukkan pengenalan universitas.”

Lalu sempat disinggung pula soal mengapa inisiasi universitas harus mengambil waktu satu hari inisiasi fakultas?

Di sini kami Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2008 telah mengkonsepkan inisiasi selama tiga hari. Apabila Inisiasi Universitas 2008 yang rencananya tanggal 11 Agustus 2008 bakal diadakan, otomatis inisiasi fakultas hanya berjalan dua hari, 12 dan 13 Agustus 2008.

Sebenarnya kami bisa saja menaruh inisiasi fakultas hari ketiga di tanggal 14 Agustus 2008. Namun tanggal itu auditorium digunakan inisiasi universitas untuk ilmu eksakta.


Pertanyaan ini kemudian langsung ditanggapi oleh wakil dekan (fakultas mana?),
“Saya kok jadi melihat kesannya kita mengambil hari mereka (mahasiswa) dalam inisiasi fakultas. Padahal khan sama saja. Tugas teman-teman menjadi lebih mudah, karena kami telah mengatur sesi perkenalan universitas. Contohnya saja tahun kemarin, inisiasi teman-teman eksakta buktinya saja bisa digabung dan tidak ada masalah.”

“Masalahnya adalah mengapa ide soal inisiasi universitas ini tidak mengikutsertakan mahasiswa dalam penggodokannya? Mengapa kita baru tahu soal inisiasi ini sudah sangat terlambat?” Ujar Duala perwakilan dari FISIP membalik pertanyaan tadi.

Ya, seperti yang sudah saya kemukakan dalam tulisan saya sebelum ini, Di Bawah Senapan Universitas. Inti permasalahan sebenarnya adalah pada pertemuan 21 Mei 2008 lalu. Pertemuan itu saya nilai tidak adil karena penggodokan ide dan pengambilan keputusan kebijakan pengadaan inisiasi universitas tidak melibatkan suara mahasiswa sama sekali.

Singkatnya: dari awal kesalahan sudah ada di pihak fakultas dan universitas.

Menanggapi ini, Diki, Ketua Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2008 menentang keras, “Proyek coba-coba ini jangan dijalankan sekarang, dijalankan tahun depan saja. Karena saya juga melihat tidak ada koordinasi yang jelas.”

Suasana rapat semakin gayeng. Entah yang mana Pandawa dan Kurawa. Semua berkutat dengan versi rasionalitas kelompoknya masing-masing. Apalagi Pak Siswanto dan Pak Sugiyat sudah mengeluarkan sikap emosionalnya dalam menjawab. Mereka kalah karena sikap emosional, kita di atas angin.

Lalu bagaimana dengan fakultas lain? Selain FISIP dan FE yang bersama-sama menolak inisiasi universitas, FH, FT, dan Fakultas Teknobiologi menyatakan sikap sebaliknya. Mereka sepakat diadakannya inisiasi universitas dengan beberapa pertimbangan.

Saya perlu memberi sedikit catatan di sini. Mengapa kami (FISIP) begitu ngotot memperjuangkan inisiasi fakultas tiga hari? Pertama, konsep besar inisiasi FISIP UAJY 2008 (Inisiatif-Aktif-Aksi) telah didisain jauh sebelum pertemuan 21 Mei 2008 diadakan.

Kedua, karakteristik dan kuantitas mahasiswa ilmu eksakta dan non-eksakta amat jauh berbeda. Dalam artian begini. Jumlah mahasiswa pendaftar ilmu eksakta lebih sedikit dibandingkan mahasiswa non-eksakta. Jadi mereka tentu tidak merasa bermasalah apabila inisiasi digabung di tingkat universitas. Karena setelah inisiasi universitas peluang mereka “menyatu” lagi dalam satu kelas sangat besar.

Tentunya hal ini tidak bisa diterapkan pada fakultas ilmu non-eksakta yang notabene jumlah mahasiswa per angkatan di atas 200 orang. Karena dalam komunikasi kelompok semakin banyak orang peluang interaksi antarindividu semakin kecil. Akhirnya inisiasi universitas tidak akan berjalan efektif bila jadi diadakan. Bayangkan satu ruangan, 900 mahasiswa berkumpul! Meski ini nantinya masih dibagi empat kelompok besar ke dalam empat ruangan.

Ketiga, tidak ada pemberitahuan kepada panitia inisiasi dari pejabat universitas dan fakultas tentang pertemuan tanggal 21 Mei 2008. Keempat, kekhawatiran kami selaku panitia terhadap konsep acara inisiasi universitas yang tanpa koordinasi. Kelima, susunan acara inisiasi universitas yang sifatnya membosankan karena MaBa benar-benar pasif mendengarkan informasi universitas dari jam 7 pagi hingga pukul 4 sore.

###########
Berikutnya, permasalahan lain yang kemudian dibahas pada pertemuan itu adalah soal solusi pengalihan inisiasi universitas ilmu non-eksakta dipindah ke tanggal 8 Agustus 2008.

Awalnya sempat terjadi perdebatan sengit soal ini, khususnya dengan Pak Sugiyat. Teman-teman panitia inisiasi FISIP telah menginstruksikan sebagian calon MaBa yang mendaftar untuk datang menghadiri pembukaan inisiasi pada tanggal 8 Agustus 2008 esok.

Namun Pak Sugiyat mengatakan sebaliknya, pembukaan inisiasi dilaksanakan tanggal 9 Agustus 2008. Keputusan perubahan itu telah tertera dalam surat edaran yang dikeluarkan secara mendadak oleh BAAK.”Kami keluarkan saat MaBa herregistrasi,” katanya.

Nah, di sini yang fatal. Kami di Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2008 sama sekali tidak diberi tahu soal perubahan jadwal pembukaan inisiasi dari 8 Agustus ke 9 Agustus 2008.

Bagaimanapun ini tetap kesalahan BAAK. Proses informasi dari universitas ke fakultas yang mandek, apalagi menyangkut perubahan peraturan/kebijakan bisa berakibat buruk. Berdasarkan kelemahan koordinasi Pak Sugiyat dan BAAK ini, akhirnya kami berhasil memperjuangkan tanggal 8 Agustus 2008 sebagai pembukaan serta acara inisiasi universitas ilmu non-eksakta di Auditorium Kampus Thomas Aquinas.

Dengan diloloskannya permintaan ini, serta-merta para pejabat kampus itu mengabulkan permohonan inisiasi fakultas selama tiga hari.

“Lalu bagaimana dengan masalah pemotongan dana 10 ribu rupiah?” Kata Diki.

“Tidak jadi dipotong,” jawab Pak Sugiyat tanpa bertele-tele.

Sontak teman-teman mahasiswa jadi riuh (FISIP khususnya). Kami memenangkan pertarungan ini. Gemuruh tepuk tangan memenuhi langit-langit ruangan itu. Suara tawa kemenangan terus bersahut-sahutan tiada henti. Semua mahasiswa saat itu mungkin merasa,”inilah tugas mahasiswa sebenarnya, menggugat dan mengkritisi dalam kapasitasnya.”

Perjuangan kami tentu belum berhenti sampai di sini. Jangan sampai larut pada kemenangan sementara ini. Karena Kurusetra selanjutnya telah menunggu kami 20 hari lagi. Yaitu saat inisiasi. Bukan tak mungkin selama perjalanan sisa ini kami menemui rintangan kembali. Sekali lagi hasil akhir bergantung kepada kekuatan barisan mahasiswa itu sendiri.

Kesimpulan: 8 Agustus 2008 - Pembukaan Inisiasi dan Inisiasi Universitas Non-Eksakta
(FISIP, FE, FH [?])
9 Agustus 2008 - Briefing inisiasi di fakultas masing-masing
11, 12, 13 Agustus 2008 - Inisiasi FISIP, FE, FH

Rabu, 16 Juli 2008

Di Bawah Senapan Universitas

Kurang dari empat minggu lagi, Inisiasi FISIP UAJY 2008 bakal digelar. Panitia penyelenggara inisiasi FISIP UAJY yang berjumlah 86 orang –termasuk Steering Committe- telah dibentuk. Tapi perjalanan menuju inisiasi ini bukan tanpa halangan.

Oleh Hendy Adhitya

Saya jadi ingin berkisah. Setahun lalu saya juga mengalami hal yang mirip. Waktu itu saya menjabat posisi Ketua Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2007. Halangan-halangan selama perjalanan inisiasi selalu ada dan terjadi. Tapi anehnya, halangan itu timbul dari masalah yang tak kami perbuat.

Tentunya masalah muncul bukan dari internal kepanitiaan melainkan dari eksternal non-kepanitiaan yang ironisnya justru pihak universitas sendiri dalangnya.

Contoh, kalender akademik UAJY tahun lalu –sengaja membuat- bentrok jadwal inisiasi FISIP UAJY dengan jadwal pengisian Kartu Rencana Studi (KRS). Pada akhirnya masalah ini merembet ke hal-hal seperti; parkiran motor meluber karena daya tampung parkiran FISIP baru di belakang Ruang Kemahasiswaan (RK) sangat terbatas, lalu lintas parkir FISIP kacau-balau, dan akhirnya mengganggu kenyamanan seluruh sivitas akademika.

(Lokasi inisiasi saat itu berada di parkiran FT sebelah kampus FISIP UAJY. Kami –terpaksa- menggunakan tempat itu dengan alasan sederhana: FISIP tidak memiliki tempat yang mampu mengakomodasi ratusan mahasiswa baru saat inisiasi seperti FT, FE dan FH yang mempunyai auditorium sendiri. FISIP itu kaya pemasukannya tapi miskin fasilitas!)

Selain itu, masalah pengadaan dana inisiasi. Kami, di kepanitiaan inisiasi 2007 sama sekali tidak mengetahui dan tidak diberi tahu bahwa setiap mahasiswa baru/ kepala diwajibkan membayar 60 ribu rupiah (oleh fakultas atau universitas?) untuk keikutsertaannya di inisiasi.

Belum lagi dana inisiasi yang turun sesuai dengan jumlah mahasiswa yang masuk. Jadi, apabila ada 260 mahasiswa yang mendaftar inisiasi maka dana yang turun; 260 anak x 60.000 rupiah/kepala = Rp 15.600.000,00

Kami baru mengetahui itu dari Wadek 2 FISIP setelah pengajuan proposal dana diajukan beberapa hari sebelumnya. Padahal dana yang tertera pada proposal hanya rancangan dana kira-kira. Jelas kami cemas saat itu. Karena baik fakultas dan unversitas tidak akan menambah-mengganti jikalau ada kekurangan dana.

Satu hal yang masih saya pertanyakan hingga saat ini. Dari mana angka 60 ribu rupiah per kepala itu didapati dan disepakati? Otoritas siapa ini?

Sebelum terlalu jauh, maksud tulisan saya ini bukan ingin mengungkit-ungkit, mencari-cari borok masa lewat. Tulisan ini lebih ingin membuktikan bahwa universitas telah berlaku semena-mena dan sepihak membuat keputusan!! Mahasiswa tidak punya hak dilibatkan membuat kebijakan! Mahasiswa UAJY dianggapnya cuma kerbau manut!

Dulu dan Sekarang Sama Saja

Setahun berlalu. Saat ini saya tergabung lagi dalam Kepanitiaan Inisiasi FISIP UAJY 2008. Tapi kali ini sebagai Steering Committe (SC).

Saya berharap inisiasi ini merupakan event terakhir kali saya terlibat dalam kegiatan di kampus. Saya berharap kesulitan-kesulitan, halangan-halangan yang sifatnya eksternal (baca: universitas) tidak mengganggu lagi.

Tapi impian saya jauh panggang dari api. Halangan-halangan eksternal ini muncul kembali dalam bentuknya yang lebih merusak.

Mei 2008 lalu, pihak rektorat, wakil dekan 1 dan pejabat kemahasiswaan di fakultas masing-masing, mengadakan pertemuan. Pertemuan itu membicarakan perihal penyelenggaraan acara INISIASI UNIVERSITAS. Pertemuan itu menghasilkan keputusan inisiasi universitas disepakati akan diadakan pada 11 Agustus 2008. Berarti perhelatan ini mau tak mau akan memangkas (baca: mengorbankan) waktu satu hari inisiasi di tiap fakultas. Singkatnya, tahun ini pertama kalinya inisiasi fakultas dibatasi hanya dua hari.

Parahnya lagi, informasi ini tidak sesegera mungkin disampaikan ke telinga teman-teman di kelembagaan mahasiswa masing-masing fakultas saat itu. Mengingat kepanitiaan inisiasi tiap fakultas baru terbentuk pada sekitar periode Juni-Juli.

Apakah Anda merasa ada yang janggal di sini? Aneh bukan, kesepakatan dan keputusan diambil oleh mereka yang jarang atau bahkan tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan kemahasiswaan tingkat fakultas? Bukankah ini sama saja dengan menyuruh seseorang mengaku bertanggung jawab padahal ia sendiri bukan pelaku perbuatan?

Di luar permasalahan itu, Inisiasi universitas ini sebenarnya bertujuan baik yaitu menghilangkan sekat-sekat antarfakultas di UAJY. Sementara teknis pelaksanaan dibagi berdasarkan jenis ilmu. Eksakta dan Non-Eksakta. Kemudian tempat penyelenggaraannya dilaksanakan di Auditorium Kampus Dua.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan keberadaan inisiasi universitas. Tapi sekali lagi saya bertanya:
DI MANA POSISI MAHASISWA DALAM PENENTUAN KEBIJAKAN UNIVERSITAS (Baca: INISIASI UNIVERSITAS)?

MENGAPA MAHASISWA TIDAK PERNAH DILIBATKAN DALAM PENENTUAN KEBIJAKAN UNIVERSITAS (Baca: INISIASI UNIVERSITAS)?

Kalau niat baik untuk menghilangkan sekat-sekat antarfakultas menjadi tujuan, itu akhirnya menjadi runtuh karena ternyata pihak universitas (baca: para peserta pertemuan itu) sendiri malah menciptakan sekat-sekat semakin kokoh dan eksklusif terhadap mahasiswanya. Khususnya kepada mahasiswa yang tergabung dalam kepanitiaan inisiasi fakultas.

Katanya serviens in lumine veritatis, melayani dalam cahaya kebenaran. Tapi mereka sendiri telah mempraktekkan KEBATILAN, KEBUSUKAN dengan meniadakan hak mehasiswa untuk ikut serta berpendapat. Mahasiswa di sini stake holder juga bung ! Tidak adanya mahasiswa, UAJY tidak akan semegah sekarang! Ingat itu!

Saya mengetahui info ini, setelah saya dan Jimmy (SC juga) -sengaja- diputar-putar pihak universitas dan fakultas sendiri. Yah, inilah birokrasi. Coba saja lihat, dari fakultas kami berdua dilempar ke BAAK. Kemudian dilempar lagi untuk kemudian disuruh bertemu pejabat kemahasiswaan tingkat universitas, Siswanto. Setelah pertemuan dan pembicaraan yang menggantung itu (karena ternyata Pak Siswanto sendiri tidak mengetahui apa-apa?! Lelucon macam apalagi ini padahal dia pejabat kemahasiswaan?!) kami disuruh kembali mencari info lagi kembali di fakultas dengan wadek 1 dan pejabat kemahasiswaan.

Hingga kini kami belum mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini (setelah mencari beberapa nara sumber):

SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS INISIASI UNIVERSITAS?

BAGAIMANA KOORDINASI DENGAN MASING-MASING FAKULTAS? MENGINGAT JUMLAH MAHASISWA BARU UNTUK JENIS ILMU NON-EKSAKTA (FH, FISIP, FE) SAJA BERJUMLAH 900 MAHASISWA.

APAKAH EFEKTIF INISIASI UNIVERSITAS DI AUDITORIUM DENGAN JUMLAH PESERTA SEBEGITU BANYAKNYA?

Parahnya, pejabat-pejabat yang kami temui itu mengaku tidak tahu menahu soal ini dan saling melempar tanggung jawab satu sama lain (Baca: cari aman). Ini yang aneh memutuskan sepakat tapi tidak tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan.

Yah hingga saat ini kami kepanitiaan inisiasi FISIP bersama FE UAJY masih ingin terus memperjuangkan inisiasi fakultas tiga hari. Dengan konsep dan rundown yang telah kami bentuk. Daripada menunggu ketidakjelasan inisiasi universitas terlalu berlarut-larut.