Wuuuussshh. Ingatan saya malah terlempar mundur jauh sebelum registrasi peserta inisiasi. Saya membayangkan dan mempertanyakan kualitas teman-teman mahasiswa yang masuk ke FISIP UAJY ini. Bagaimana bisa mereka masuk?
Saya malah ingin mempertanyakan kepada oknum-oknum/juri-juri (karena saya tidak tahu rupa orang yang mengurusi ini) yang meloloskan teman-teman ini. Mereka dinilai berdasarkan kriteria seperti apa? hasil jawaban tes-kah? Atau tajirnya calon mahasiswa?
Amat disayangkan apabila kekayaan calon mahasiswa yang menjadi ukuran. Porsi kursi bagi mahasiswa yang punya kualitas otak lebih tapi berkantong cekak akhirnya hanya mendapat sedikit tempat.
Saya berpendapat (dan ini dugaan pribadi) universitas ini berorientasi mengejar kuantitas mahasiswa berduit dan meniadakan kualitas. Contoh di FISIP, angkatan 2005 kurang lebih berjumlah 220 orang (SPP Tetap=1,2 juta dan SPP Variabel=60 ribu), angkatan 2006 kurang lebih 250 orang (SPP Tetap= 1,6 juta dan SPP Variabel= 75 ribu) dan angkatan 2007 kurang lebih 260 orang (SPP Tetap= 1,9 juta dan SPP Variabel= 90 ribu). Belum lagi jika FISIP semakin tren (khususnya ilmu komunikasinya) tidak menutup kemungkinan angkatan 2008 bakal bertambah lagi jumlah mahasiswanya dari angkatan sebelumnya. Apalagi SPP Tetap untuk angkatan besok sebesar 2,2 juta plus SPP Variabel yang 100 ribu. Gila! dengan biaya seperti itu sudah bisa ditebak golongan masyarakat tingkat mana yang bisa masuk FISIP UAJY. Kesimpulan saya yang sembrono: Pendidikan tinggi milik orang berduit.
Selain itu, ada yang tidak rasional menurut saya. Yaitu
jumlah kelas di FISIP,
tenaga dosen FISIP dan
waktu yang tersedia dihubungkan dengan kuantitas mahasiswa yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Jumlah kelas di FISIP cuma ada delapan kelas. Jumlah tenaga dosen tetap dan dosen luar tidak sebanding dengan jumlah mahasiswanya. Jika kita memakai rasio perbandingan ideal antara dosen dengan mahasiswa yaitu 1 : 30, kondisi sekarang ini amat jauh dari itu.
Logikanya begini, jumlah mahasiswa FISIP (khususnya ilmu komunikasi) semakin meningkat dari tahun ke tahun. Otomatis jumlah mahasiswa yang sekian banyaknya ini harus dipecah ke dalam beberapa kelas dan waktu. Contoh: Angkatan 2007 ilmu komunikasi semester 1 kemarin dikelompokkan ke dalam tujuh kelas. Ini bertambah satu kelas dibandingkan angkatan 2005 dan 2006 kemarin. Ekses dari itu juga, sesi kegiatan perkuliahan FISIP dalam sehari bertambah, dari jam 07.00 sampai 19.30 WIB. Pun, hari Sabtu yang dahulu rencananya tidak dipakai untuk kegiatan perkuliahan akhirnya terpaksa dipakai.
Tentu saja ini kalau dicari akibatnya lagi bakal merembet ke hal-hal seperti,
tidak kondusifnya perkuliahan dan
bentrok jadwal perkuliahan si mahasiswa dengan mata kuliah lain ataupun dengan perkuliahan pengganti.
Nah, jadi begini bisa jadi antengnya mahasiswa di kelas Bu Dina dan di kelas dosen-dosen lain yang turut mengalami hal serupa bukan hanya faktor kualitas mahasiswa (seperti Bu Dina tuliskan dalam 7 sebab itu) melainkan tiga faktor yang saya sebut di atas juga ikut serta.
Coba saja bayangkan jika satu kelas penuh dengan mahasiswa. Saya yakin beberapa mahasiswa bertipe tukang
nggosip bakal riuh. Yah, akhirnya tidak kondusif khan.
Faktor-faktor lain (bukannya membela mahasiswa) yang -mungkin- menyebabkan mahasiswa anteng, selain diutarakan Bu Dina dalam
7 Sebab, seperti;
1. Ia malu mengutarakan pendapat bisa jadi karena pengaruh
sedikitnya/banyaknya jumlah orang dalam satu ruangan
2. Sosok dosen tersebut di mata mahasiswa, ramah, galak, tegas,
killer, dll.
Image atau bahkan prasangka ini bisa terbentuk dari cerita bisik-bisik antarmahasiswa.
3. Sistem pengajaran yang kaku, dosen mengajar di depan kelas sementara mahasiswa duduk mendengarkan dengan komposisi dan disain interior ruangan yang terpusat menghadap papan tulis. Secara tak sadar akan membentuk pola pikir: yang berdiri di depan adalah penguasa kelas.
4. Hubungan dosen dan mahasiswa hanya sebatas "dosen dan mahasiswa". Padahal seharusnya hubungan dosen dan mahasiswa bisa seperti "orang tua dan anak" atau yang lebih baik lagi antara "kawan dengan kawan".
5. Banyaknya istilah, kosa kata asing, bentuk penyampaian informasi yang monoton dan terlalu panjang.
6. Dosen terlalu banyak berfilsafat dalam penyampaian materi, bisa jadi penyebab. Nah, sekarang pihak dosen duluan mengalah . Karena level otak dosen lebih tinggi dibanding level otak mahasiswanya
mbok diturunkan/disetarakan levelnya. Soalnya ada juga dosen
kayak beginian nih, bahasanya
njlimet bikin
ora dong. Apalagi mengkomunikasikan bahasa kuantitatif.
7. Kurangnya suntikan motivasi positif ke dalam diri mahasiswa. Nah, yang ini bukan berarti dapat dari seminar motivasi kemarin sore. Dosen seharusnya tidak melulu menyindir mahasiswanya dengan bahasa-bahasa negatif tetapi juga menjadi motivator bagi mahasiswanya bahwa mereka bisa dan mampu. Tumbuhkan semangat belajar, bangkitkan semangatnya. Permasalahannya -kalau ini Pak Bona yang bilang dan selalu saya ingat- bukan terletak pada "bisa atau tidak bisa" tetapi pada "mau atau tidak mau".
********************************************
Wuuuuuuushh. Ingatan saya kembali lagi ke hari ini. Hari di saat saya menulis artikel ini. Jika tadi saya menulis penyebab (tambahan) mahasiswa anteng dilihat dari hubungan antara dosen-mahasiswa di dalam kelas, kali ini saya coba menganalisis penyebab (tambahan) mahasiswa anteng dilihat dari hubungan antara mahasiswa-lingkungan FISIP.
Maka saya mencoba menerka dari;
1. Mahasiswa FISIP UAJY semakin homogen. Maksudnya homogenitas ini dalam arti luas. Homogen dalam pola pikir maupun homogen yang terlihat secara fisik (penampilan, dll). Contoh: dugaan saya mahasiswa FISIP UAJY kebanyakan -nantinya- datang dari kondisi latar-belakang/golongan ekonomi tertentu. Bayangkan saja esok golongan ekonomi mana yang bisa berkuliah di ilmu komunikasi yang SPP Tetap dan SPP Variabelnya bisa mencapai 4,5 juta per semester bila ditotal!.
2. Cita-cita dan tujuan awal berkuliah di FISIP. Mau tidak mau hal ini bisa jadi gambaran alur berpikir calon mahasiswa FISIP.
Setahu saya FISIP itu kependekan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tapi, mana pembelajaran sosialnya? Mana dinamika dan partisipasi politiknya? Sangat minim.
Kalau kata teman saya lebih baik nama fakultas ini diganti FISIK, Fakultas Ilmu Sosiologi dan Ilmu Komunikasi dalam arti sebenarnya. Dalam arti konotatif, disebut "FISIK" juga karena ya fakultas ini hanya mementingkan penampilan luarnya. Lihat saja lahan parkir mobil di depan FISIP
. Udah kayak show room aja. Belum lagi penampilan fisik mahasiswa-mahasiswanya bak
fashion show.
3.Sifat hubungan antarmanusia dengan manusia lain bersifat transaksional (konsep manusia-ekonomi). Ini artinya mahasiswa lebih melihat untung-ruginya melakukan atau menerima suatu tindakan. Prinsipnya hampir sama dengan "mendapatkan untung sebesar-besarnya, dengan pengorbanan sekecil-kecilnya". Bisa jadi mahasiswa anteng di ruang kuliah Bu Dina berpikir "masih untung setor muka, ketimbang
mbolos malah rugi kena 75%
gak bisa ikut ujian." Atau, "Masih untung
gue kuliah ada kerjaan daripada di rumah/kos menghabiskan waktu
gak ngapa-ngapain."
Ini juga kenapa kegiatan organisasi/KP/UKM/BEM/HMPS minim peminat. Karena masih saja ada mahasiswa berargumen, "Kalo saya masuk organisasi saya bakal dapat apa?"
4. Mahasiswa sekarang ahli meniru, mulai dari gaya rambut, baju, laptop sampai paper/tugas. Bahkan olok-olok dari media gelap FISIP UAJY paling terkenal Goblok Post menyebutkan 80% perempuan FISIP berambut polem alias poni lempar. Hwa...ha...ha
5. Fasilitas yang meninabobokan. Diakui atau tidak, fasilitas semacam
hot spot mengurangi frekuensi orang bertatap muka dan berdiskusi dengan sohibnya. Mereka lebih memilih ngobrol di YM atau mengklik Friendster.
6. Konsep S1 yang diputarbalikkan menjadi D3. Seharusnya FISIP S1 menciptakan konseptor-konseptor handal dan bukannya pekerja-pekerja bermental tukang seperti D3. Maka, khusus ilmu komunikasi saya mengusulkan agar Mata Kuliah Kajian Media dilebur ke dalam kurikulum Jurnalisme, Advertising dan PR. Hal ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan konsep Kajian Media yang lebih teoritik dengan tiga konsentrasi lainnya yang lebih mengarah kepada praksis/praktik.
7. Mahasiswa jaman sekarang kurang terbiasa hidup prihatin,
tirakat kalau kata ortu saya.
Kampus jaman sekarang ibarat rumah kaca yang eksklusif. Penghuninya mengklaim diri sebagai entitas terpisah dengan masyarakat luar. KKN Lokasi hanya formalitas syarat skripsi.
Ini bisa jadi karena teman-teman mahasiswa berada dalam tingkat kemapanan yang akut. Tidak seperti mahasiswa
Angkatan Babe Gue dimana fasilitas dan pemenuhan kebutuhan hidup benar-benar merupakan usaha sendiri.
Kalau kata Minke (Tirto Adisoerjo) dalam Anak Semua Bangsa, kira-kira seperti ini intinya, seorang terpelajar itu harus turun ke lapangan, melihat kenyataan sosial yang ada, merasakan kesusahan yang ada.
********************************************
Ya, lagi-lagi ini hanya
suara anjing. Gonggongannya bisa jadi sangat mengganggu bagi pendengarnya. Mungkin si anjing menggonggong karena ada sesuatu yang mengancam dan tidak beres, sesuatu yang -menurut penciuman dan naluri si anjing- patut diwaspadai dan dicurigai.
Tapi bisa juga si anjing salah sangka. Orang asing yang digonggonginya malah bisa jadi kenalan baik tuannya. Karena sekali lagi, si anjing hanya hewan dengan keterbatasannya.
Gukk...gukk!!